Tadi pagi aku jemput mama ke bandara soekarno-hatta. Dari bandara, kita langsung menuju ke arah halim perdanakusuma, tempat acaranya mama. Waktu mau bayar di gerbang tol cengkareng, aku disapa dengan ramaaaaahhhh sekali sama penjaga tolnya, “Selamat pagi, gimana kabarnya? Baik? Sehat kan? Terima kasih…:-)”
Wowww… seumur-umur aku lewat tol, baru kali ini aku ketemu sama penjaga yang ramah banget, dan tampak benar2 menikmati dan melakukan pekerjaannya itu dengan sepenuh hati. Bayangkan, sudah berapa ratus (atau bahkan ribu?) mobil yang dia layani, dan berapa ribu orang yang dia sapa seperti itu? Tapi tidak terlihat sedikit pun gurat bosan di wajahnya. Terlihat sekali bahwa dia benar2 ikhlas menyapa para pelanggannya dengan hati, karena persis itulah yang saya rasakan ketika itu. Bukan sapaan yang dibuat-buat atau sekedar basa-basi, dia menyapa saya seakan-akan kita ini sahabat lama. Sepertinya dia menganggap semua pengguna jalan itu adalah sahabatnya!
Dan bayangkan lagi, bila kita semua bisa seperti itu, ramah terhadap satu sama lain, ramah dengan sesama pengguna jalan, mungkin kita bisa melihat para pengguna jalan di Jakarta ini menyetir mobilnya dengan wajah tersenyum, bukan dengan wajah cemberut, stress, dan penat akibat jalanan yang macet dan semrawut gak karuan, seperti yang biasa kita temui selama ini
Sejenak aku pun menyadari, betapa langkanya hal seperti itu di Jakarta ini. Boro2 untuk beramah-tamah dengan orang lain, senyum pun seperti mahal sekali harganya. Kebanyakan orang melakukan pekerjaannya seperti robot, tidak dengan hati. Ritme kehidupan yang begitu cepat juga sepertinya membuat orang2 menjadi apatis.
Sikap yang ditunjukkan penjaga tol tersebut menyadarkan kita, sekaligus memberi contoh kepada kita, bagaimana sebaiknya kita menyikapi pekerjaan kita sehari-hari. Tanpa bermaksud meremehkan atau merendahkan sama sekali, bapak penjaga tol yg sehari-hari “terkungkung” di dalam sebuah box, ditemani dengan kebisingan dan polusi, ternyata masih bisa tersenyum dan begitu enjoy dengan pekerjaannya. Bagaimana dengan kita yang mungkin jauh lebih beruntung dari dia? Kita yang sehari-hari bekerja dengan nyaman di ruangan ber-AC, dikelilingi dengan teman2, jauh dari polusi, mengapa kita justru tidak bisa se-enjoy beliau dalam bekerja?
Bagi aku pribadi, sungguh suatu pelajaran yang berharga, bahwa ternyata enak tidaknya suatu pekerjaan itu bukan ditentukan oleh apa pekerjaan kita, dimana kita bekerja, atau pun berapa gaji kita, melainkan oleh sikap positif kita dalam menyikapi pekerjaan kita.



